Hikmah Ramadhan 27 September 2007
Posted by adhiwirawan in Uncategorized.trackback
Penulis : Aam Amiruddin
“Apabila Allah SWT mewajibkan sesuatu kepada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalau kita cermati, paling tidak ada lima hikmah diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan, yakni “
1. Menghapus Dosa-dosa Kecil
Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari kesalahan, kekeliruan, dan kemaksiatan. Tidak ada manusia yang steril dari dosa, kecuali para nabi yang ma’sum (terpelihara dari perbuatan dosa). Puasa Ramadhan merupakan sarana untuk menghapuskan dosa. Puasa yang kita lakukan menjadi penghapus dosa-dosa kecil setahun ke belakang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Shalat-shalat yang lima dan Jum’at ke Jum’at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).
2. Melatih Muraqabah
Muraqabah artinya suatu kondisi psikis (jiwa) yang selalu merasa ditatap, dilihat, dan diawasi Allah SWT. Seorang pelajar atau mahasiswa yang muraqabah tidak akan menyontek walaupun tidak diawasi. Seorang yang muraqabah tidak akan korup walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Ketika puasa, kalau belum tiba waktu berbuka, kita tidak berani makan atau minum walau tidak ada seorang pun yang melihat kita, padahal makanan dan minuman tersedia. Jelaslah, bahwa puasa menjadi ajang latihan muraqabah.
3. Melatih Pengendalian Nafsu
Manusia memiliki tiga nafsu (dorongan), yang selalu berkompetisi (bersaing), yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah.
Nafsu amarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling shaleh pun memiliki dorongan ini, karena sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.
Nafsu lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi saat kita melakukan dosa atau maksiat. Kalau kita melakukan kemaksiatan, berbohong misalnya, coba siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah? Diri kita sendiri bukan? Inilah yang disebut nafsu lawwamah. Bersyukurlah bila kita masih merasa bersalah kalau melakukan dosa, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya masih berfungsi. Kalau kita sudah tidak merasa lagi saat berbuat maksiat, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya sudah tidak peka, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.
Nafsu muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenteram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi ini pun memiliki nafsu muthmainnah, karenanya sebejat-bejatnya orang pasti dia pernah berbuat kebaikan. Manusia hakikatnya hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tenteram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan, serta merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.
Ketiga macam nafsu diatas, amarah, lawwamah dan muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan persaingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu amarah yang menang (dominant), akan lahir perbuatan dosa. Jadi, puasa melatih jiwa agar mampu mengendalikan nafsu amarah, bahkan bisa menundukkannya, sehingga yang dominant dalam diri kita adalah nafsu muthmainnah. Dengan demikian, yang lhir dalam ucapan dan perbuatan kita hanyalah hal-hal yang baik, benar, dan diridhai Allah SWT.
4. Menajamkam Kepekaan Sosial
Puasa bisa menjadi ajang latihan kepekaan sosial, sebab dalam waktu tertentu (sejak terbit fajar hingga terbenam matahari) kita dilarang makan dan minum, sehingga bisa merasakan lapar. Sesungguhnya hal ini harus kita proyeksikan pada nasib sesama saudara kita yang kurang beruntung. Di antara mereka ada yang hanya mampu makan sekali dalam satu hari atau bahkan hanya satu kali dalam dua hari.
Dengan latihan ini, diharapkan kita menjadi lebih tanggap pada penderitaan orang lain. Ingat sabda Rasulullah SAW, “Belum dikategorikan sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena lapar.”
5. Menyehatkan Badan
Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa usus manusia, juga organ-organ yang terkait dengannya, dalam tempo tertentu perlu dikurangi beban kerjanya. Dan puasa merupakan sarana untuk mengurangi beban kerja orang-orang tersebut. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.”
Komentar»
No comments yet — be the first.